Money Can’t Buy Everything!
Idealis? Sangat! Masih segar di
ingatan saya ketika membaca artikel di Kompas tentang janji setia Nedved kepada
klubnya Juve meskipun klubnya itu harus degradasi ke serie B sekalipun beberapa
orang teman-temannya memilih hijrah ke klub lain sementara tawaran untuk
bermain di klub lain terus berdatangan kepada dirinya. Alasan Nedved pun
sederhana.. Merasa berhutang budi kepada bos Juve, Agnelli yang telah
membesarkannya dan keluarganya yang merasa kerasan tinggal di Turin.
Beberapa hari yang lalu saya membaca Majalah Marketing edisi Juli 2006.
Pada edisi ini, Majalah Marketing menampilkan survey gaji marketer. Setelah
menampilkan hasil survey tersebut, ada beberapa artikel hasil wawancara dengan
para marketer professional mengenai gaji dan pekerjaan mereka. Fakta yang saya
temukan ialah professional di Unilever dan GarudaFood sangat setia kepada
perusahaannya meskipun tawaran kerja di tempat lain dengan gaji yang lebih
besar datang dari banyak perusahaan bahkan ketika mereka baru bekerja 2 tahun
sebagai sales [management trainee] sekalipun. Idealis? Mungkin. Mereka menjawab
perusahaan mampu memberikan kepuasan lahiriah dan batiniah dan sangat terbuka
terhadap kesalahan karyawannya.
Untuk anda yang berprestasi dengan memenangkan perlombaan-perlombaan. Di
mana kepuasan anda? Hadiah? Saya pikir tidak. Sepanjang pengamatan saya hingga
saat saya menulis tulisan ini, hadiah perlombaan tingkat nasional berkisar
antara Rp 1 juta s/d Rp 12,5 juta. Tentu ada beberapa perlombaan tingkat nasional
yang berhadiah lebih dari nilai itu, tapi masih terhitung jarang. Saya yakin,
jika anda mampu memenangi perlombaan tingkat nasional, anda memiliki kemampuan
dan pengetahuan lebih untuk menghasilkan jumlah uang itu dalam waktu yang
singkat. Kepuasan memenangkan perlombaan terletak pada tingkat kesulitan
perlombaan, siapa anda sebelum menang, dan perjuangan anda menuju puncak bukan
berapa jumlah nilai hadiah yang anda
peroleh.
James Dutson, seorang yang secara khusus melayani keluarga-keluarga di Amerika
Serikat dan menulis banyak buku tentang masalah keluarga, menulis buku
berjudul, ”Istri anda rewel?” Buku ini diawali dengan survey, ”Apa yang membuat
wanita mengalami depresi?” Angket diedarkan di
Amerika Serikat dan diisi dengan sistem pemeringkatan jawaban. Ada 10 pilihan jawaban yang diberikan, yaitu :
Suami kurang romantis, Konflik dengan
mertua/ipar, Kurang dihargai, Masalah
dengan anak-anak, Masalah keuangan, Masalah kesepian/kebosanan, Masalah sex,
Masalah keletihan/tekanan waktu, dan Proses menjadi tua. Lebih dari 50%
memberikan peringkat pertama untuk pilihan kurang dihargai dan lebih dari 80%
memasukan masalah kurang dihargai dalam peringkat 5 besar masalah yang paling
membuat wanita mengalami depresi. Jujur saja, saya kaget melihat hasil survey
ini, selama ini saya pikir apa yang paling sering diributkan oleh istri/wanita
ialah masalah keuangan.
Tulisan saya ini bukan sedang ingin berkata bahwa uang tidak penting. Tanpa
uang kita akan mengalami banyak kesulitan bahkan untuk mengakses kebutuhan yang
paling dasar sekalipun seperti makan, periksa kesehatan, buang air kecil, dll. Meski
berusaha senyata mungkin, contoh-contoh yang saya berikan pun masih terlihat
idealis. Sering kali, mereka yang sukses mengawali semuanya dari idealisme
pribadi. Semua orang memiliki idealisme, yang membedakan antara mereka yang
sukses dan yang gagal terletak pada kemampuan mereka menyempurnakan bentuk
idealismenya dengan kenyataan hidup sehari-hari.
" Do what you love and money will follow you "
August 13th, 2006 at 6:18 pm
Pendapat anda benar adanya, saya menambahkan sedikit mengenai bagian terakhir yang membedakan orang sukses dan orang gagal. Menurut saya, selain daripada penyempurnaan bentuk idealisme, orang sukses sudah dipastikan memiliki suatu impian yang ingin diraih, suatu harapan yang ingin dicapai, demi dirinya, demi keluarga, dan demi orang-orang yang dicintainya. Disinilah letak perbedaan daripada orang sukses dan orang gagal, yaitu orang sukses selain memiliki impian, mereka juga mengejar impian mereka dengan jiwa dan semangat pantang menyerah, sebaliknya orang gagal hanya terus menerus bermimpi dan mengatakan,”Nanti saja..”
Mengenai pernyataan ‘Money can’t buy everything’, that sentence is absolutely correct. Uang tidak pernah bisa membeli harga diri seorang laki-laki yang berjuang mencari kebanggaan dalam dirinya. Lagipula, pengusaha sejati tidak melihat persaingan hanya dari segi uang (Zig Ziglar). Semua benda yang ada di dunia ini, bisa dipakai secara negatif maupun positif. Seperti contoh pisau dapur dijual banyak sekali di supermarket. Pisau dapur jika digunakan secara positif yaitu sebagai alat untuk memotong daging, sayur, dll yang digunakan untuk memasak. Namun jika digunakan secara negatif, benda tersebut dapat dipakai buat kejahatan seperti menodong, membunuh, mengancam, dll. Demikian juga dengan uang, apabila dipakai secara negatif maka uang dapat membeli pangkat, dapat membeli ijazah, dapat mendiamkan mulut seseorang, dll. Karena itu, perihal uang haruslah dipakai dan digunakan sebijaksana mungkin. Walaupun menurut saya, positif atau negatif adalah suatu hal yang relatif. Terkadang orang melakukan hal-hal negatif namun tujuan dan maksud setelah itu adalah positif. Bagaimana menurut anda mengenai hal itu?
Mengenai loyalitas karyawan terhadap perusahaan, menurut saya semua tergantung daripada kepemimpinan seorang pemimpin perusahaan atau divisi tersebut. Salah satu taktik Dinasti Wei memenangkan pertempuran dalam roman Tiga Kerajaan yaitu bahwa Kaisar Tzao Tzao selalu ikut bertempur dengan prajuritnya, sehingga prajurit mereka memiliki rasa kebersamaan yang begitu kuat dan memberikan efek luar biasa, yaitu semangat juang dan rela mati demi apa yang dianutnya. Saya sendiri dalam menjalankan kepemimpinan saya dalam sebuah perusahaan adalah dengan memberikan kenyamanan kepada mereka. Kenyamanan tidak selalu dalam bentuk gaji yang besar, namun lebih kepada bentuk kenyamanan keluarga, kehangatan seperti keluarga. Silahkan anda coba taktik itu.
Saya rasa cukup sekian dulu, apabila dari tanggapan saya ada yang kurang berminat di hati anda, saya tidak keberatan untuk anda kembali memberikan tanggapan. Terima kasih banyak.
August 15th, 2006 at 7:19 am
hai
klo mnurut ak “money can’t buy everything” tuh gak smuanya bener. Semuanya kambali sama orang nya. Ada banyak orang yang mau manyerahkan apa pun demi uang. Btul gak?
Tapi, bagi orang2 yang udah memahami segala sesuatu secara lebih luas atau pun mempunyai sesuatu yang sangat dia hargai dan dia cintai, pasti bisa menentukan “pantas atau tidak pantas” sesuatu dikorbankan demi mendapatkan uang.
stlah baca comment ku… kasih tanggapan y(d testi ato blog)
thanx
…CiNdY…
August 16th, 2006 at 3:11 am
@Abok & Cindy : Nice to have your comments leaved in my blog.. ^^
Sebelum mengomentari komentar, pengen kasi tau, Buffon gak cabut dari Juve oii.. ^^ Jelas banyak banget klub yg mau nampung kiper termahal di dunia ini.
Buffon bilang “Klub ini membuat saya menjadi seorang juara, dan jika hari ini saya menjadi juara dunia, saya harus berterima kasih kepada Juve. Selain itu, setidaknya akan ada tantangan baru ke depan yakni merebut gelar juara divisi dua,”
Idealis? Mungkin. Simply money can’t buy everything.
August 16th, 2006 at 4:05 am
@abok :
ahahaha..Comment kamu panjang banget, bisa jadi 1 blog lagi.. =P ~LOL No problem! I can feel your passion to the topic.. ^^
Paragraf 1
===========
Yup, thx buat tambahannya. Impian itu visi dan idealisme itu misi. Misi ialah apa yang kita lakukan untuk mencapai visi. Impian dan idealisme perlu berjalan dan mengalami penyempurnaan bentuk secara bersamaan [bahasa Jawa-nya : Sinkronisasi ~LOL] untuk menjadi sebuah kesuksesan.
Paragraf 2
===========
Uang itu netral. Dia tidak jahat dan juga tidak baik. Uang memang hanyalah sebuah alat, baik atau buruk tergantung pemakainya. Namun baik dan buruk ialah suatu yang berjalan bersama jadi di mana ada kebaikan di situ ada keburukan dan demikian sebaliknya.
“Terkadang orang melakukan hal-hal negatif namun tujuan dan maksud setelah itu adalah positif.”
Maksudnya gimana yah? Ora mudeng.. ^^;
Paragraf 3
===========
Nice tactic, i’ll try it. Thx!
Paragraf 4
===========
Your comment is awesome. Can’t wait for your next comment. Danke.. ^^
August 16th, 2006 at 7:34 am
@CiNdY :
Komentar yang menarik.
Pernyataan “Money can’t buy everything” memang bukan suatu pernyataan yang bersifat absolut. Ia lahir dari mulut orang-orang yang tidak pernah terlalu peduli dengan uang, mungkin sudah merasa cukup dengan uang yang dimiliki atau hidupnya dibiayai orang lain. Ia tidak akan pernah dilontarkan oleh orang-orang yang hidupnya tertindas oleh kaum kapitalis serta orang-orang yang tidak pernah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang telah ia miliki.
Pernyataan mencerminkan kepribadian orang yang melahirkannya.
Sebagian besar orang justru menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang seperti yang kamu bilang. Tapi kamu tahu, orang-orang seperti ini tidak benar-benar kaya. Orang kaya tidak pernah mengejar uang, uanglah yang mengejar mereka.
Yup, setiap orang pasti memiliki skala prioritas yang menentukan apakah sesuatu yang ia miliki pantas dikorbankan demi uang atau tidak. Skala prioritas ini lahir dari reservoir of wisdom yang ia miliki. Semakin luas, ia akan semakin mengerti “Money can’t buy everything”, demikian sebaliknya.
I believe there are always positive things beside the negative things and vice versa including this post. So thx very much for balancing my post. I really appreciate your comment and waiting for your next interesting comments.
Please correct me if I’m wrong.
August 18th, 2006 at 6:45 am
idealisme itu perlu asal ada kadarnya!!!!!!!!!!!!!!!! sebagai seorang idealis sejati, kalo gue nga ada suatu standard pasti, gue nga akan pernah tau kapan gue sukses.
soal money can’t buy everything, cm mau bilang “Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi
tuan
yang sangat buruk.”
August 23rd, 2006 at 5:40 pm
Uang memang bukan segalanya… tapi segalanya Tidak akan terwujud tanpa uang.
Money Talk Everything Walks..
Ryker Marvyn Turangan
http://rykers.blogspot.com