Where is My Mrs.Right? – Part 1

 

 

Prolog

Blog kali ini adalah
blog bagian pertama yang diilhami dari kisah nyata bahwa selama 2 hari terakhir,
sabtu dan minggu, pikiran gw seperti diarahkan untuk memikirkan topik ini.

 

Berbagai media
seperti percakapan dengan 2 orang teman sabtu kemarin, artikel psikologi kompas
hari minggu ini, dan yang baru saja ialah membaca update sebuah seri blog dari seorang
teman lama
, dengan ajaibnya membahas suatu topik yang sama yaitu  permasalahan yang dihadapi banyak anak muda
berumur 20-an yaitu bagaimana memilih pasangan hidup. Kebingungan ini bukan
hanya didominasi cowo tapi juga cewe, terbukti dari blog teman saya tersebut…=P

 

Blog gw ini
tidak untuk mencoba memberikan jawaban dari permasalahan-permasalah tersebut
tapi gw akan coba ceritakan apa input yang saya terima dalam 2 hari ini. Untuk
jawaban, silahkan mengambil kesimpulan sendiri… =P

 

Nb: Judul diilhami oleh judul blog teman saya yang juga
bercerita tentang hal yang kurang lebih sama dengan saya.

 

 

Where is My Mrs.Right?
– Part 1

Sabtu sore
kemarin setelah pulang kuliah, saya menyempatkan diri untuk mengobrol dengan seorang
teman lama. Dia, sebut saja B, saya
kenal dari seorang teman yang lain pada semester-semester awal dan tidak pernah
sekelas hingga semester ini kami sekelas. Hubungan kami biasa-biasa saja, tidak
terlalu dekat. Ketika kelas berakhir, saya menyempatkan diri untuk turun dari
kelas kami di lantai 5 untuk menuju foodcourt.

 

Sepanjang jalan turun itu, dengan iseng saya coba
menanyakan kabar hubungan dengan pacarnya. Dia mengatakan kalau dia sudah putus
2 bulan yang lalu karena pacarnya selingkuh. Kaget! Itu perasaan yang muncul
untuk pertama kalinya. Bagaimana tidak? Setahu saya hubungannya itu sudah ia
jalani cukup lama dan sejauh yang saya tahu merupakan pasangan yang stabil. Ya,
dia memang sudah menjalani hubungannya selama 2 tahun.

 

Sore itu di foodcourt Kampus Anggrek sudah tidak
terlalu ramai, hanya beberapa QuestNetters yang sedang memprospek dan beberapa
orang yang sedang duduk-duduk. Setelah memesan makanan, kami pun memilih salah satu
meja yang kosong. Pembicaraan pun dimulai, ngalor-ngidul mulai dari IP, karir,
teman, kehidupan sehari-hari hingga pasangan hidup. Pembicaraan kami sempat
terpotong karena B bertemu dengan teman SMP yang sudah lama tidak bertemu dan
menjadi reuni kecil antara dua sahabat lama. Percakapan mereka tidak terlalu
lama, sekitar 20 menit. Setelah itu kami melanjutkan pembicaraan kami.

 

Entah kenapa, kami akhirnya kembali lagi ke
pembicaraan tentang pasangan hidup. Semula saya kira si B ini akan tertutup
ketika saya menanyakan kisah perjalanannya dengan pacarnya yang telah menjadi
mantannya itu. Ternyata saya salah. Dia begitu terbuka dan dengan semangat
menceritakannya kepada saya. Dia bercerita mulai dari bagaimana proses
jadiannya, bagaimana menjalani hubungan selama 2 tahun dan bagaimana dia putus,
dan bagaimana kejadian pasca putus. Semuanya diceritakannya dengan detil
seolah-olah ingin menasehati saya untuk berhati-hati memilih orang yang akan
dijadikan pasangan hidup.

 

Topik tentang pasangan hidup tidak hanya berhenti
sampai di situ. Kami pun brainstorming menggunakan pengalaman kami yang tidak terlalu
banyak, apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih seorang untuk dijadikan
pasangan hidup. Kami sama-sama berasumsi bahwa begitu penting untuk memilih
pasangan hidup yang tepat untuk dijadikan orang yang hidup satu rumah dan tidur
satu ranjang selama lebih dari 50 tahun, kurang atau lebihnya tergantung
kehendak Tuhan.

 

Hasil brainstorming sederhana kami sore itu menunjukan
bahwa memilih seorang pasangan hidup tidak sesimple  alur cari – lihat – suka – dekati – tembak / ditembak
– jadian / ulangi langkah awal. Brainstorming sederhana menghasilkan beberapa
hal rumit. Bagaimana tidak, selain kriteria-kriteria yang biasa kita buat, kita
harus memikirkan apakah keluarga anda dapat menerima dirinya dengan apa adanya
dirinya seperti latar belakangnya dan apakah keluarganya juga dapat menerima
anda apa adanya.

 

Sungguh suatu hal yang tidak mudah, inilah yang
membuat proses pemilihan itu dapat berjalan cukup lama meski ada beberapa kasus
yang hanya memerlukan waktu yang begitu singkat. Ya memang pembahasan di atas
hanya membahas dari segi logika [ baca: otak kiri ] saja. Saya terlalu percaya
untuk menghasilkan jawaban yang komprehensif atas suatu persoalan memerlukan analisis
hasil gabungan beberapa pendekatan intelektual. Bukankah selain IQ, kita juga
memiliki EQ dan SQ?

 

Sayang kemarin kami tidak sempat membahas dari
segi pendekatan lain karena teman saya si B ini akan pergi ke gereja. Untuk
mencari calon pasangan hidup katanya…

 

To
be Continue…

 

One Response to “Where is My Mrs.Right? – Part 1”

  1. Yadi Says:

    Pertama-tama, Maafkan kelancangan ku untuk berkomentar.

    Seru nampaknya membaca tulisan dari seorang Arsitek Marketing ttg cinta.

    Sebuah studi kasus Psikologi Lintas Budaya, yang pernah saya baca, dapat dijadikan sebuah referensi: “Pandangan Orangtua Etnis Tionghoa dalam Memilih Calon Pasangan Hidup Anak”

    Wawancara bbrp ibu keturunan akan pendapat mereka terhadap calon pasangan anaknya. Kadang kita berpendapat “yang mau kawin kan gw? Apa urusannya sama ortu ?”

    Memang, yang ditulis Saudara Hadi ada benar nya “…kita harus memikirkan apakah keluarga anda dapat menerima dirinya dengan apa adanya dirinya seperti latar belakangnya dan apakah keluarganya juga dapat menerima anda apa adanya.”
    Bagaimana kesan dari orangtua ikut berpengaruh terhadap apa yang akan kita pilih.

    Tetapi ada kasus, seorang majikan (lelaki) pernah jatuh cinta dan akhirnya merit dengan pembantunya. Bagaimana menurut Anda reaksi dari orang tua nya ? Jelas mereka marah besar. Memang tidak bisa dipungkiri, status sosio-ekonomi menjadi salah satu poin yang dilihat ketika melihat calon pasangan. Tetapi, cinta mengalahkan segalanya. Pasangan yang tidak direstui itu melarikan diri dari rumah, mendirikan rumah dan keluarga dengan jerih payah. Mereka pun akhirnya bisa hidup sukses dan berkecukupan, malah orang tua kedua nya datang menjenguk mereka. Ini yang pertama kali, setelah sebelumnya mereka diejek, dihina dan tidak direstui. Di airport, air mata tumpah dan cinta membuka semua pintu yang mustahil. (sumber: penulis pernah membaca sebuah majalah rohani remaja)

    Memang cinta kadang-kadang (mungkin sering) buta. Ia tidak mengenal ras, agama, status sosial atau ekonomi. Tetapi, jaman yang semakin modern dan complicated, ditambah benih-benih dosa dan mata hati yang buta sering mengotorkan sucinya cinta.

Leave a Reply