<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Where is My Mrs.Right? – Part 1</title>
	<atom:link href="http://hadigunawan.blog.friendster.com/2006/09/where-is-my-mrsright-%e2%80%93-part-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hadigunawan.blog.friendster.com/2006/09/where-is-my-mrsright-%e2%80%93-part-1/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 07:03:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Yadi</title>
		<link>http://hadigunawan.blog.friendster.com/2006/09/where-is-my-mrsright-%e2%80%93-part-1/#comment-40</link>
		<dc:creator>Yadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2006 17:20:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hadigunawan.blog.friendster.com/2006/09/where-is-my-mrsright-%e2%80%93-part-1/#comment-40</guid>
		<description>Pertama-tama, Maafkan kelancangan ku untuk berkomentar.

Seru nampaknya membaca tulisan dari seorang Arsitek Marketing ttg cinta.

Sebuah studi kasus Psikologi Lintas Budaya, yang pernah saya baca, dapat dijadikan sebuah referensi: "Pandangan Orangtua Etnis Tionghoa dalam Memilih Calon Pasangan Hidup Anak"

Wawancara bbrp ibu keturunan akan pendapat mereka terhadap calon pasangan anaknya. Kadang kita berpendapat "yang mau kawin kan gw? Apa urusannya sama ortu ?"

Memang, yang ditulis Saudara Hadi ada benar nya "...kita harus memikirkan apakah keluarga anda dapat menerima dirinya dengan apa adanya dirinya seperti latar belakangnya dan apakah keluarganya juga dapat menerima anda apa adanya."
Bagaimana kesan dari orangtua ikut berpengaruh terhadap apa yang akan kita pilih.

Tetapi ada kasus, seorang majikan (lelaki) pernah jatuh cinta dan akhirnya merit dengan pembantunya. Bagaimana menurut Anda reaksi dari orang tua nya ? Jelas mereka marah besar. Memang tidak bisa dipungkiri, status sosio-ekonomi menjadi salah satu poin yang dilihat ketika melihat calon pasangan. Tetapi, cinta mengalahkan segalanya. Pasangan yang tidak direstui itu melarikan diri dari rumah, mendirikan rumah dan keluarga dengan jerih payah. Mereka pun akhirnya bisa hidup sukses dan berkecukupan, malah orang tua kedua nya datang menjenguk mereka. Ini yang pertama kali, setelah sebelumnya mereka diejek, dihina dan tidak direstui. Di airport, air mata tumpah dan cinta membuka semua pintu yang mustahil. (sumber: penulis pernah membaca sebuah majalah rohani remaja)

Memang cinta kadang-kadang (mungkin sering) buta. Ia tidak mengenal ras, agama, status sosial atau ekonomi. Tetapi, jaman yang semakin modern dan complicated, ditambah benih-benih dosa dan mata hati yang buta sering mengotorkan sucinya cinta.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama, Maafkan kelancangan ku untuk berkomentar.</p>
<p>Seru nampaknya membaca tulisan dari seorang Arsitek Marketing ttg cinta.</p>
<p>Sebuah studi kasus Psikologi Lintas Budaya, yang pernah saya baca, dapat dijadikan sebuah referensi: &#8220;Pandangan Orangtua Etnis Tionghoa dalam Memilih Calon Pasangan Hidup Anak&#8221;</p>
<p>Wawancara bbrp ibu keturunan akan pendapat mereka terhadap calon pasangan anaknya. Kadang kita berpendapat &#8220;yang mau kawin kan gw? Apa urusannya sama ortu ?&#8221;</p>
<p>Memang, yang ditulis Saudara Hadi ada benar nya &#8220;&#8230;kita harus memikirkan apakah keluarga anda dapat menerima dirinya dengan apa adanya dirinya seperti latar belakangnya dan apakah keluarganya juga dapat menerima anda apa adanya.&#8221;<br />
Bagaimana kesan dari orangtua ikut berpengaruh terhadap apa yang akan kita pilih.</p>
<p>Tetapi ada kasus, seorang majikan (lelaki) pernah jatuh cinta dan akhirnya merit dengan pembantunya. Bagaimana menurut Anda reaksi dari orang tua nya ? Jelas mereka marah besar. Memang tidak bisa dipungkiri, status sosio-ekonomi menjadi salah satu poin yang dilihat ketika melihat calon pasangan. Tetapi, cinta mengalahkan segalanya. Pasangan yang tidak direstui itu melarikan diri dari rumah, mendirikan rumah dan keluarga dengan jerih payah. Mereka pun akhirnya bisa hidup sukses dan berkecukupan, malah orang tua kedua nya datang menjenguk mereka. Ini yang pertama kali, setelah sebelumnya mereka diejek, dihina dan tidak direstui. Di airport, air mata tumpah dan cinta membuka semua pintu yang mustahil. (sumber: penulis pernah membaca sebuah majalah rohani remaja)</p>
<p>Memang cinta kadang-kadang (mungkin sering) buta. Ia tidak mengenal ras, agama, status sosial atau ekonomi. Tetapi, jaman yang semakin modern dan complicated, ditambah benih-benih dosa dan mata hati yang buta sering mengotorkan sucinya cinta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
